Garam ternyata tak
hanya bermanfaat sebagai penyedap rasa. Butiran mungil berwarna putih
itu juga bisa digunakan untuk kesehatan mata dan gigi.
1. Pembasuh Mata. Untuk
meredakan sakit mata, dalam keadaan darurat gunakan air garam untuk
membasuh mata. Bila keluhan tak berkurang, segeralah memeriksakannya ke
dokter mata.
2. Obat Kumur. Air hangat yang telah
dibubuhi sedikit garam merupakan pencuci mulut yang efektif. Begitu juga
bila terkena radang tenggorokan. Masukkan sedikit garam ke dalam air
panas, aduk perlahan lalu gunakan sebagai obat kumur.
3. Gigi Putih. Gigi yang
terlihat kusam akan kembali cemerlang dengan cara menaburkan garam
kering ke ujung bulu-bulu sikat gigi Anda saat akan menggosok gigi.
4. Sikat Gigi Awet. Merendam
sikat gigi yang masih baru dalam larutan air garam akan membuat sikat
gigi menjadi lebih awet dipakai.
Tips Dan Trik Cara Belajar Yang Baik
Belajar merupakan hal yang wajib dilakukan oleh para pelajar dan
mahasiswa. Belajar pada umumnya dilakukan di sekolah ketika jam
pelajaran berlangsung dibimbing oleh Bapak atau Ibu Guru. Belajar yang
baik juga dilakukan di rumah baik dengan maupun tanpa pr / pekerjaan
rumah. Belajar yang dilakukan secara terburu-buru akibat dikejar-kejar
waktu memiliki dampak yang tidak baik.
Berikut ini adalah tips dan triks yang dapat menjadi masukan berharga
dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi ulangan atau ujian :
1. Belajar Kelompok
Belajar kelompok dapat menjadi kegiatan belajar menjadi lebih
menyenangkan karena ditemani oleh teman dan berada di rumah sendiri
sehingga dapat lebih santai. Namun sebaiknya tetap didampingi oleh
orang dewasa seperti kakak, paman, bibi atau orang tua agar belajar
tidak berubah menjadi bermain. Belajar kelompok ada baiknya mengajak
teman yang pandai dan rajin belajar agar yang tidak pandai jadi
ketularan pintar. Dalam belajar kelompok kegiatannya adalah membahas
pelajaran yang belum dipahami oleh semua atau sebagian kelompok belajar
baik yang sudah dijelaskan guru maupun belum dijelaskan guru.
2. Rajin Membuat Catatan Intisari Pelajaran
Bagian-bagian penting dari pelajaran sebaiknya dibuat catatan di kertas
atau buku kecil yang dapat dibawa kemana-mana sehingga dapat dibaca di
mana pun kita berada. Namun catatan tersebut jangan dijadikan media
mencontek karena dapat merugikan kita sendiri.
3. Membuat Perencanaan Yang Baik
Untuk mencapai suatu tujuan biasanya diiringi oleh rencana yang baik.
Oleh karena itu ada baiknya kita membuat rencana belajar dan rencana
pencapaian nilai untuk mengetahui apakah kegiatan belajar yang kita
lakukan telah maksimal atau perlu ditingkatkan. Sesuaikan target
pencapaian dengan kemampuan yang kita miliki. Jangan menargetkan yang
yang nomor satu jika saat ini kita masih di luar 10 besar di kelas.
Buat rencana belajar yang diprioritaskan pada mata pelajaran yang lemah.
Buatlah jadwal belajar yang baik.
4. Disiplin Dalam Belajar
Apabila kita telah membuat jadwal belajar maka harus dijalankan dengan
baik. Contohnya seperti belajar tepat waktu dan serius tidak sambil
main-main dengan konsentrasi penuh. Jika waktu makan, mandi, ibadah,
dan sebagainya telah tiba maka jangan ditunda-tunda lagi. Lanjutkan
belajar setelah melakukan kegiatan tersebut jika waktu belajar belum
usai. Bermain dengan teman atau game dapat merusak konsentrasi belajar.
Sebaiknya kegiatan bermain juga dijadwalkan dengan waktu yang cukup
panjang namun tidak melelahkan jika dilakukan sebelum waktu belajar.
Jika bermain video game sebaiknya pilih game yang mendidik dan tidak
menimbulkan rasa penasaran yang tinggi ataupun rasa kekesalan yang
tinggi jika kalah.
5. Menjadi Aktif Bertanya dan Ditanya
Jika ada hal yang belum jelas, maka tanyakan kepada guru, teman atau
orang tua. Jika kita bertanya biasanya kita akan ingat jawabannya.
Jika bertanya, bertanyalah secukupnya dan jangan bersifat menguji orang
yang kita tanya. Tawarkanlah pada teman untuk bertanya kepada kita
hal-hal yang belum dia pahami. Semakin banyak ditanya maka kita dapat
semakin ingat dengan jawaban dan apabila kita juga tidak tahu jawaban
yang benar, maka kita dapat membahasnya bersama-sama dengan teman.
Selain itu
6. Belajar Dengan Serius dan Tekun
Ketika belajar di kelas dengarkan dan catat apa yang guru jelaskan.
Catat yang penting karena bisa saja hal tersebut tidak ada di buku dan
nanti akan keluar saat ulangan atau ujian. Ketika waktu luang baca
kembali catatan yang telah dibuat tadi dan hapalkan sambil dimengerti.
Jika kita sudah merasa mantap dengan suatu pelajaran maka ujilah diri
sendiri dengan soal-soal. Setelah soal dikerjakan periksa jawaban
dengan kunci jawaban. Pelajari kembali soal-soal yang salah dijawab.
7. Hindari Belajar Berlebihan
Jika waktu ujian atau ulangan sudah dekat biasanya kita akan panik jika
belum siap. Jalan pintas yang sering dilakukan oleh pelajar yang belum
siap adalah dengan belajar hingga larut malam / begadang atau membuat
contekan. Sebaiknya ketika akan ujian tetap tidur tepat waktu karena
jika bergadang semalaman akan membawa dampak yang buruk bagi kesehatan,
terutama bagi anak-anak.
8. Jujur Dalam Mengerjakan Ulangan Dan Ujian
Hindari mencontek ketika sedang mengerjakan soal ulangan atau ujian.
Mencontek dapat membuat sifat kita curang dan pembohong. Kebohongan
bagaimanapun juga tidak dapat ditutup-tutupi terus-menerus dan cenderung
untuk melakukan kebohongan selanjutnya untuk menutupi kebohongan
selanjutnya. Anggaplah dengan nyontek pasti akan ketahuan guru dan
memiliki masa depan sebagai penjahat apabila kita melakukan kecurangan.
Semoga tips cara belajar yang benar ini dapat memberikan manfaat
untuk kita semua, amin.
Kebanyakan orang beranggapan bahwa ikhlas
adalah memberikan sesuatu, sedekah, infaq, zakat, dan lain-lain dengan
tidak ada rasa keberatan pada hati. Saya nggak mengerti apakah hal ini
benar atau salah. Saya cuma ingin membahasnya dari persepsi yang
berbeda.
Beberapa minggu yang lalu, kalo tidak salah dua minggu yang lalu,
saya menunaikan sholat jum’at di masjid Manarul Ilmi ITS. Saat saya
mendengarkan ceramahnya saya menemukan sesuatu yang menarik. Sebuah
persepsi yang berbeda dari definisi ikhlas dan ibadah.
Sang Penceramah bercerita tentang persepsi yang baru dari ikhlas.
Ikhlas, menurutnya, adalah jika kita menyumbangkan sesuatu, sedangkan
hati kita berat untuk melakukannya, namun tetap kita lakukan. Jika kita
berinfaq di masjid Rp 1000, mungkin tidak masalah bagi kita, karena toh
itu uang yang sedikit. Tapi bagaimana saat kita akan menyumbangkan Rp
100.000 kedalam kotak infaq masjid? Bukankah akan terbesit rasa ‘sayang
nih uang gedhe’. Nah saat kita merasa seperti inilah keikhlasan kita
benar-benar diuji. Apakah kita akan mengurungkan niat kita, atau akan
tetap kita sumbangkan? Dan tantangannya tidak berakhir sampai disitu
saja. Setelah uang kita sedekahkan pun, apakah kita akan terus
memikirkan amal yang baru saja kita lakukan, atau akan terus kita
pikirkan dan kita bayang-bayangkan?
Lalu sang penceramah bercerita tentang ibadah. Tentang hal-hal yang
dilarang oleh Alloh kepada hambanya, adalah justru hal-hal yang
disenangi manusia. Dan justru perintah-perintahNya adalah yang manusia
malas untuk lakukan.
Contoh kongkritnya, adalah larangan untuk makan kekenyangan,
padahal kecenderungan manusia adalah untuk makan sekenyang-kenyangnya.
Larangan untuk berzina, padahal adalah kecenderungan manusia untuk
melakukan sex bebas. Larangan untuk ghibah (ngrasani), padahal adalah
kecenderungan wanita untuk melakukannya (hayo... ibu-ibu ngaku... :p)
Dalam hal perintah juga sama, siapa sih yang nggak berat untuk
bangun jam 2 pagi, dingin-dingin, wudhu, trus sholat tahajjud? Siapa sih
yang nggak berat untuk menyumbangkan seluruh hartanya untuk kepentingan
kaum muslimin, seperti yang dilakukan oleh Abu Bakr Rodhiallohu Anhu?
Siapa yang sama sekali nggak ada rasa berat dihati untuk sholat lima
waktu di masjid (bagi laki-laki)? Siapa yang lebih suka hari-hari saat
berpuasa dibandingkan dengan hari-hari berbuka (tidak berpuasa)?
Maka disinilah letak tingkat keimanan dan ketaqwaan kita kepada
Alloh. Apakah kita hanya akan mau mengikuti perintah-perintah yang kita
suka saja? Sementara perintah yang tidak kita suka kita tinggalkan.
Apakah kita hanya akan meninggalkan larangan-larangan yang kita tidak
sukai, sementara larangan yang kita sukai tetap kita lakukan?
Termasuk yang manakah kita? Apakah kita akan terus menutup mata dan
tetap pada kebiasaan kita? Bukankah saat datang perintah Alloh
seharusnya kita mengatakan,”sami’na wa atho’na” (kami dengar, dan kami
taat).
Semoga sedikit wacana ini dapat mengisi sebagian kekosongan di hati
kita. Jika ada benarnya, maka itu semua datangnya dari Alloh. Dan jika
ada yang salah, maka itu datangnya dari iblis dan kebodohan saya. Dan
sesungguhnya Alloh adalah Dzat yang Maha Suci dari kesalahan.
Disebutkan dalam Musnad Imam Ahmad, dari Anas bin Malik, bahwa
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
"Tidak akan lurus keimanan seorang hamba, sehingga lurus hatinya,
dan tidak akan lurus hatinya, sehingga lurus lidahnya."
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadikan syarat lurusnya
iman dengan lurusnya hati, kemudian menjadikan syarat lurusnya hati
dengan lurusnya lisan.
Dalam kitab Sunan at-Tirmidzi, disebutkan suatu riwayat dari Ibnu
Umar r.a., Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
"Janganlah memperbanyak kata (bicara) selain dzikrullah, karena
banyak bicara selain dzikrullah menjadikan hati keras. Dan orang yang
terjauh dari Allah adalah yang berhati keras."
Umar bin Khaththab r.a. berkata, "Barangsiapa banyak bicaranya, maka
banyak kesalahannya, dan orang yang banyak salahnya berarti banyak
dosanya, sehingga nerakalah sebaik-baik tempat bagi mereka."
Di dalam salah satu hadits dari Mu'adz, Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda, "Maukah kamu jika saya katakan kepadamu
tentang sendi dari semua kebaikan itu?" Aku (Mu'adz) menjawab, "Tentu,
ya Rasulullah." Maka beliau menunjuk pada lidahnya, seraya berkata,
"Jagalah ini!" Aku berkata, "Ya Nabi Allah, apakah kami akan memperoleh
siksa akibat ucapan kami?" "Betapa celakanya engkau wahai Mu'adz,
bukankah orang-orang yang tersungkur ke dalam neraka itu, melainkan
hasil menabur fitnah melalui lidah-lidah mereka, akhirnya menuai
siksa-Nya?" (HR Tirmidzi dan Hakim).
Makna dari hadits tersebut ialah, bahwa pada hakikatnya manusia
hidup di dunia ini menaburkan benih-benih kebaikan dan keburukan yang
ditimbulkan ucapannya. Barangsiapa menanam kebaikan, berupa ucapan dan
perbuatan, iapun akan memanen kemuliaan, dan barangsiapa yang menanam
kejelekan, maka ia pun memanen kekecewaan.
Hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan
oleh Abu Hurairah menyebutkan:
"Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah
melalui dua lubang; mulut dan farji (kemaluan)." (HR Tirmidzi dalam
Al-Birru wash-Shilah)
Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Uqbah bin 'Amir berkata
kepada Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Ya Rasulullah, apakah
keselamatan itu?" Beliau menjawab: "Jagalah lidahmu, luaskanlah rumahmu,
dan menangislah atas kesalahan dan dosa-dosamu." (HR Bukhari-Muslim)
Selanjutnya Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
"Barangsiapa yang dapat memberikan jaminan kepadaku untuk menjaga
sesuatu yang berada di antara kedua dagu (lisannya) dan kedua pahanya
(kemaluannya), maka aku akan menjaminnya masuk surga." (HR Bukhari)
Dan sabda beliau dalam kedua kitab Shahih Bukhari-Muslim:
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, maka
hendaknya berkata yang baik atau diam." (HR Bukhari)
Dari Ummu Habibah, dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang
bersabda:
"Semua ucapan manusia akan memberatinya, tidak meringankan baginya,
kecuali amar ma'ruf nahi munkar dan dzikrullah Subhanahu wa Ta'Ala." (HR
Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Abdullah bin Mas'ud berkata, "Demi Allah, yang tiada tuhan selain
Dia, tidak ada sesuatu yang paling penting untuk dikunci selama-lamanya
selain lisanku ini." Beliau pun pernah berkata, "Wahai lisanku, katakan
yang baik, engkau akan beruntung. Jangan berkata buruk, engkau akan
selamat. Ingatlah dan perhatikan itu, sebelum engkau menyesal."
Sementara Ibnu Abbas r.a. berkata, sebagaimana yang diriwayatkan Abu
Hurairah, "Sesungguhnya telah sampai keterangan kepadaku, bahwa tiada
satu anggota tubuh yang lebih memberati manusia di hari Kiamat, selain
lidahnya. Kecuali bagi orang yang menggunakannya untuk mengatakan yang
hak atau mengajarkan yang baik."
Imam Hasan al-Bashri berkata, "Belum memahami agama, orang yang
tidak menjaga lisannya."
Bahaya terkecil yang ditimbulkan lidah adalah berkata-kata tentang
sesuatu yang tidak bermanfaat (sia-sia) sebagaimana sabda Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Diantara kebaikan agama (Islam) dari
seseorang ialah apabila ia mau meninggalkan apa yang tidak berguna
baginya." (HR Tirmidzi dan Ahmad).
Dari Abu 'Ubaidah meriwayatkan, bahwa Hasan al-Bashri berkata, "Di
antara penyebab berpalingnya Allah dari hamba-Nya yaitu, jika hamba-Nya
suka menyibukkan diri dengan sesuatu yang sia-sia baginya; sebagai
penghinaan Allah terhadapnya."
Itulah bahaya lisan yang teringan. Bisa kita bayangkan alangkah
berbahayanya ghibah, adu domba, ucapan batil dan keji, dusta,
berbantah-bantahan yang mengandung permusuhan, penghinaan, makian dan
sebagainya. Semoga Allah menolong kita.
Syaitan dalam menggoda
manusia memiliki berbagai cara strategi, dan yang sering dipakai adalah
dengan memanfaatkan hawa nafsu, yang memang memiliki kecenderungan
mengajak kepada keburukan (ammaratun bis su'). Syaitan seakan mengetahui
kecenderungan nafsu kita, dia terus berusaha agar manusia keluar dari
garis yang telah ditentukan Allah, termasuk melepaskan hijab atau
pakaian muslimah.
Berikut adalah cara bertahap:
I.
Menghilangkan Definisi Hijab Dalam tahap ini syaitan membisikkan
kepada para wanita, bahawa pakaian apapun termasuk hijab (penutup) itu
tidak ada kaitannya dengan agama, ia hanya sekadar pakaian atau gaya
hiasan bagi para wanita. Jadi tidak ada pakaian syar'i, pakaian, dengan
apa pun bentuk dan namanya tetap pakaian.
Sehingga akibatnya,
ketika zaman telah berubah, atau kebudayaan manusia telah berganti, maka
tidak ada masalah pakaian ikut ganti juga. Demikian pula ketika
seseorang berpindah dari suatu negeri ke negeri yang lain, maka harus
menyesuaikan diri dengan pakaian penduduknya, apapun yang mereka pakai.
Berbeza halnya jika seorang wanita berkeyakinan, bahawa hijab adalah
pakaian syar'i (identiti keislaman), dan memakainya adalah ibadah bukan
sekadar gaya ( fesyen ). Biarpun hidup bila saja dan di mana saja, maka
hijab syar'i tetap dipertahankan. .
Apabila seorang wanita masih
bertahan dengan prinsip hijabnya, maka syaitan beralih dengan strategi
yang lebih halus. Caranya?
Pertama, Membuka Bahagian Tangan Telapak
tangan mungkin sudah kebiasaannya terbuka, maka syaitan membisikkan
kepada para wanita agar ada sedikit peningkatan model yakni membuka
bahagian hasta (siku hingga telapak tangan). "Ah tidak ! apa-apa, kan
masih pakai jilbab dan pakai baju panjang? Begitu bisikan syaitan. Dan
benar si wanita akhirnya memakai pakaian model baru yang menampakkan
tangannya, dan ternyata para lelaki melihatnya juga seperti biasa saja.
Maka syaitan berbisik," Tu.. tidak apa-apa kan?
Kedua, Membuka
Leher dan Dada Setelah menampakkan tangan menjadi kebiasaan, maka
datanglah syaitan untuk membisikkan perkara baru lagi. "Kini buka tangan
sudah menjadi lumrah, maka perlu ada peningkatan model pakaian yang
lebih maju lagi, yakni terbuka bahagian atas dada kamu." Tapi jangan
sebut sebagai pakaian terbuka, hanya sekadar sedikit untuk mendapatkan
hawa, agar tidak panas. Cubalah! Orang pasti tidak akan peduli, sebab
hanya sebahagian kecil sahaja yang terbuka.
Maka dipakailah
pakaian fesyen terbaru yang terbuka bahagian leher dan dadanya dari yang
fesyen setengah lingkaran hingga yang fesyen bentuk huruf "V" yang
tentu menjadikan lebih terlihat lagi bahagian sensitif lagi dari
dadanya.
Ketiga, Berpakaian Tapi Telanjang Syaitan berbisik
lagi, "Pakaian mu hanya gitu-gitu saja, yak "cool" cari fesyen atau
bahan lain yang lebih bagus! Tapi apa ya? Si wanita berfikir. "Banyak
fesyen dan kain yang agak tipis, lalu bentuknya dibuat yang agak ketat
biar lebih sedap/cantik dipandang," syaitan memberi idea baru.
Maka
tergodalah si wanita, dicarilah fesyen pakaian yang ketat dan kain yang
tipis bahkan transparent. "Mungkin tak ada masalah, kan potongan
pakaiannya masih panjang, hanya bahan dan fesyennya saja yang agak
berbeza, biar nampak lebih feminin," begitu dia menokok-nambah. Walhasil
pakaian tersebut akhirnya membudaya di kalangan wanita muslimah, makin
hari makin bertambah ketat dan transparent, maka jadilah mereka wanita
yang disebut oleh Nabi sebagai wanita kasiyat 'ariyat (berpakaian
tetapi telanjang).
Keempat, Agak di Buka Sedikit Setelah para
wanita muslimah mengenakan pakaian yang ketat, maka syaitan datang lagi.
Dan sebagaimana biasanya dia menawarkan idea baru yang sepertinya
"cool" dan "vogue", yakni dibisikkan kepada wanita itu, "Pakaian seperti
ini membuat susah berjalan atau duduk, soalnya sempit, apa tak
sebaiknya di belah hingga lutut atau mendekati paha?" Dengan itu kamu
akan lebih selesa, lebih kelihatan lincah dan energik." Lalu dicubalah
idea baru itu, dan memang benar dengan dibelah mulai dari bahagian bawah
hingga lutut atau mendekati paha ternyata membuat lebih selesa dan
leluasa, terutama ketika akan duduk atau naik kenderaan. "Yah....
tersingkap sedikit tak apa-apa lah, yang penting enjoy," katanya.
Inilah
tahapan awal syaitan merosak kaum wanita, hingga tahap ini pakaian
masih tetap utuh dan panjang, hanya fesyen, corak, potongan dan bahan
saja yang dibuat berbeza dengan hi! jab syar'i yang sebenarnya. Maka
kini mulailah syaitan pada tahap berikutnya.
II. Terbuka Sedikit
Demi Sedikit Kini syaitan melangkah lagi, dengan tipu daya lain yang
lebih "power", tujuannya agar para wanita menampakkan bahagian aurat
tubuhnya.
Pertama, Membuka Telapak Kaki dan Tumit Syaitan
Berbisik kepada para wanita, "Baju panjang benar-benar tidak selesa,
kalau hanya dengan membelah sedikit bahagiannya masih kurang leluasa,
lebih elok kalau dipotong sahaja hingga atas mata kaki." Ini baru agak
longgar. "Oh...... ada yang yang terlupa, kalau kamu pakai baju
sedemikian, maka jilbab yang besar tidak sepadan lagi, sekarang kamu
cari jilbab yang kecil agar lebih serasi dan sepadan, ala....... orang
tetap menamakannya dengan jilbab."
Maka para wanita yang
terpengaruh dengan bisikan ini terburu-buru mencari fesyen ! pakaian
yang dimaksudkan. Tak ketinggalan kasut tumit tinggi, yang kalau untuk
berjalan, dapat menarik perhatian orang.
Kedua, Membuka
Seperempat Hingga Separuh Betis Terbuka telapak kaki telah biasa ia
lakukan, dan ternyata orang yang melihat juga tidak begitu ambil peduli.
Maka syaitan kembali berbisik, "Ternyata kebanyakan manusia menyukai
apa yang kamu lakukan, buktinya mereka tidak ada reaksi apa-apa, kecuali
hanya beberapa orang. Kalau langkah kakimu masih kurang leluasa, maka
cubalah kamu cari fesyen lain yang lebih menarik, bukankah kini banyak
skirt separuh betis dijual di pasaran? Tidak usah terlalu terdedah,
hanya terlihat kira-kira sepuluh centimetre saja." Nanti kalau sudah
biasa, baru kamu cari fesyen baru yang terbuka hingga separuh betis."
Benar-benar
bisikan syaitan dan hawa nafsu telah menjadi penasihat peribadinya,
sehingga apa yang saja yang dibisikkan syaitan dalam jiwan! ya dia
turutkan. Maka terbiasalah dia memakai pakaian yang terlihat separuh
betisnya kemana saja dia pergi.
Ketiga, Terbuka Seluruh Betis Kini
di mata si wanita, zaman benar-benar telah berubah, syaitan telah
berhasil membalikkan pandangan jernihnya. Terkadang si wanita berfikir,
apakah ini tidak menyelisihi para wanita di masa Nabi dahulu. Namun
bisikan syaitan dan hawa nafsu menyahut, "Ah jelas tidak, kan sekarang
zaman sudah berubah, kalau zaman dulu para lelaki mengangkat pakaiannya
hingga setengah betis, maka wanitanya harus menyelisihi dengan
menjulurkannya hingga menutup telapak kaki, tapi kini lain, sekarang
banyak lelaki yang menurunkan pakaiannya hingga bawah mata kaki, maka
wanitanya harus menyelisihi mereka iaitu dengan mengangkatnya hingga
setengah betis atau kalau perlu lebih ke atas lagi, sehingga nampak
seluruh betisnya."
Tetapi? apakah itu tidak menja! di fitnah bagi
kaum lelaki," bersungut. "Fitnah? Ah...... itu kan zaman dulu, di masa
itu kaum lelaki tidak suka kalau wanita menampakkan auratnya, sehingga
wanita-wanita mereka lebih banyak di rumah dan pakaian mereka sangat
tertutup. Tapi sekarang sudah berbeza, kini kaum lelaki kalau melihat
bahagian tubuh wanita yang terbuka, malah senang dan mengatakan ooh atau
wow, bukankah ini bererti sudah tidak ada lagi fitnah, kerana sama-
sama suka? Lihat saja fesyen pakaian di sana-sini, dari yang di pasar
malam hingga yang berjenama di pusat membeli belah, semuanya
memperagakan fesyen yang dirancang khusus untuk wanita maju di zaman
ini. Kalau kamu tidak mengikutinya, akan menjadi wanita yang ketinggalan
zaman."
Demikianlah, maka pakaian yang menampakkan seluruh betis
akhirnya menjadi kebiasaan, apalagi ramai yang memakainya dan sedikit
sekali orang yang mempersoalkannya. Kini tibalah saatnya syaitan
melancarkan tahap terakhir dari tipu dayannya untuk melucuti hijab
wanita.
III. Serba Mini Setelah pakaian yang menampakkan betis
menjadi pakaian sehari- harian dan dirasa biasa-biasa saja, maka
datanglah bisikan syaitan yang lain. "Pakaian memerlukan variasi, jangan
yang itu-itu saja, sekarang ini fesyen skirt mini, dan agar sepadan,
rambut kepala harus terbuka, sehingga benar-benar kelihatan indah."
Maka
akhirnya skirt mini yang menampakkan bahagian bawah paha dia pakai,
bajunya pun bervariasi, ada yang terbuka hingga lengan tangan, terbuka
bahagian dada sekaligus bahagian punggungnya dan berbagai fesyen lain
yang serba pendek dan mini. Koleksi pakaiannya sangat beraneka ragam,
ada pakaian untuk berpesta, bersosial, pakaian kerja, pakaian rasmi,
pakaian malam, petang, musim panas, musim sejuk dan lain-lain, tak
ketinggalan seluar pendek separuh paha pun dia miliki, fesyen dan warna
rambut juga ikut bervariasi, semuanya telah dicuba. Begitulah sesuatu
yang sepertinya mu! stahil untuk dilakukan, ternyata kalau sudah dihiasi
oleh syaitan, maka segalanya menjadi serba mungkin dan diterima oleh
manusia.
Hingga suatu ketika, muncul idea untuk mandi di kolam
renang terbuka atau mandi di pantai, di mana semua wanitanya sama, hanya
dua bahagian paling ketara saja yang tersisa untuk ditutupi, kemaluan
dan buah dada. Mereka semua mengenakan pakaian yang sering disebut
dengan "bikini". Kerana semuanya begitu, maka harus ikut begitu, dan
na'udzubillah bisikan syaitan berhasil, tujuannya tercapai,
"Menelanjangi Kaum Wanita."
Selanjutnya terserah kamu wahai
wanita, kalian semua sama, telanjang di hadapan lelaki lain, di tempat
umum. Aku berlepas diri kalau nanti kelak kalian sama-sama di neraka.
Aku hanya menunjukkan jalan, engkau sendiri yang melakukan itu semua,
maka tanggung sendiri semua dosamu" Syaitan tak ingin ambil risiko.
Penutup Demikian
halus,! cara yang digunakan syaitan, sehingga manusia terjerumus dalam
dosa tanpa terasa. Maka hendaklah kita semua, terutama orang tua jika
melihat gejala menyimpang pada anak-anak gadis dan para wanita kita
sekecil apapun, segera secepatnya diambil tindakan. Jangan biarkan
berlarut-larutan, kerana kalau dibiarkan dan telah menjadi kebiasaan,
maka sakan menjadi sukar bagi kita untuk mengatasinya. Membiarkan mereka
membuka aurat bererti merelakan mereka mendapatkan laknat Allah,
kasihanilah mereka, selamatkan para wanita muslimah, jangan jerumuskan
mereka ke dalam kebinasaan yang menyengsarakan, baik di dunia mahupun di
akhirat.
Wallahu a'lam bisshawab.
Sumber idea dan buah
fikiran: Kitab "At ta'ari asy syaithani", Adnan ath-Thursyah
Politeknik Elektronika & Telekomunikasi, in
short: PET (1988 to 1992).
Although EEPIS officially opened in June, 2,1988 by the President of
Indonesia at that time, Suharto its history dates back to 1985 when
JICA preliminary Study Team for grant aid and technical cooperation came
to EEPIS. The head of the team was Prof. Y. Naito (Tokyo Institute of
Technology) came. At that time they were also supported by JICA
Curriculum Study Team. Then, in 1987 JICA Technical cooperation started,
after observed the possibility of cooperation (1986).
This time, The
first group of 5 lecturers were sent to colleges of technology in Japan.
In March, 15, 1988 EEPIS building and educational equipment were
officially granted to Indonesian Government and officially opened in
June, 2, 1988. Since this year, our first class has started and then
many lecturers were sent to colleges of technology in Japan. Many groups
of Japanese Expert also arrived to support us. In 1988, EEPIS was named
Politeknik Elektronika & Telekomunikasi, in order to meet the
demand of graduation, who can give guidance in handling operation,
control, maintenance and proper application of new technology and
equipment.
Politeknik Elektronika Surabaya, in short: PES
(1992 to 1996)
In June, 1991 Ministry of Education and Culture started to arrange all
Polytechnic in Indonesia which was grown in Institutes and Universities
in Indonesia. Then it was renamed Politeknik Elektronika Surabaya (PES)
which is a part of Sepuluh Nopember Institute of Technology.
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, in short:
PENS (1996 to date)
In 1996, this polytechnic was renamed Politeknik Elektronika
Negeri Surabaya by the Ministry of Education and Culture. Currently,
Sepuluh Nopember Institute of Technology had 5 faculties and 2
polytechnics. Each Faculty was headed by a dean, and each Polytechnic is
headed by a director. Because of historical reason, those two
polytechnics are managed separately based on independent and autonomous
scheme. EEPIS runs a full-time 3 years course namely DIPLOMA 3 and a
full-time 4 years course namely DIPLOMA 4.
Director
of EEPIS :
Ir. Susanto (1988 - 1997)
Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA (1997-2002)
Dr. Ir. Titon Dutono, M.Eng ( 2002 - 2009)
Ir. Dadet Pramadihanto, M.Eng, Ph.D ( 2009
- now)
VISION & MISSION
EEPIS Vision is to be a 'center of
excellent' of professional engineering education in electronic-related
field nationally and internationally as well.
EEPIS Mission are:
To
produce professional and open-minded graduation, ready to compete in
global market, by providing an excellent academic atmosphere for the
student.
To
actively involved in development and enhancement of Indonesian
Polytechnic Education system as EEPIS being the National Resources
Polytechnic
To
carry out an applied oriented research which actually solve the
industrial problem and community services to the society; both of them
are the synergetic activities of EEPIS as professional education
provider.
To develop and implement the academic
moral ethic values
THE CAMPUS & STUDY PROGRAMME
THE CAMPUS
The Japan
International Cooperation Agency (JICA) plays an important role in
Japan's Official Development Assistance by providing the developing
countries all over the world with technical cooperation and grant aid
cooperation. This institution, EEPIS was financed by 1,895,000,000- yen
grant from JICA under Japanese Government (first phase, 1988). And in
the second phase (2002), EEPIS again was granted 1,822,000,000- yen,
also from JICA under Japanese Government. All grant is for the building
construction and educational equipments.
EEPIS building has a floor area of approximately
25.000 m2, located in a 6 ha area and it is a part of ITS campus in
Surabaya. The EEPIS buildings consist of administration offices, labs,
workshops, final project rooms, lecture and seminar rooms, libraries, a
student dormitory, a canteen. EEPIS is also supported by a large parking
area & Small Mosques (musholla). In line with its target to produce
skilled and knowledgeable middle management technicians, EEPIS is fully
equipped with sophisticated study facilities, for all practice and
theory purposes. The modern labs have up-to-date equipment, like a full
range of standard measuring instruments, electronics-related trainers
and demo tools, communication equipment currently used in the industry,
micro computers, over-head and video projectors, and also data
projectors.
STUDY PROGRAMMES
EEPIS offer a full-time 3 years course namely
Diploma III (four weeks in plant,training in industry) and a full-time 4
years course namely Diploma IV (teaching staff of polytechnic). We also
run many trainings for many purposes. Diploma III has 5 majors, they
are: Electronic Engineering, Telecommunication Engineering,
Electro-Industry Engineering, Informatic Engineering and Multimedia
Broadcasting Technology. While Diploma IV has 6 major, they are:
Electronic Engineering, Telecommunication Engineering, Electro-Industry
Engineering, Informatic Engineering, Mechatronic Engineering and
Computer Engineering.