Minggu, 23 Oktober 2011

Manfaat Garam Untuk Kesehatan GIGI
Garam ternyata tak hanya bermanfaat sebagai penyedap rasa. Butiran mungil berwarna putih itu juga bisa digunakan untuk kesehatan mata dan gigi.
1. Pembasuh Mata. Untuk meredakan sakit mata, dalam keadaan darurat gunakan air garam untuk membasuh mata. Bila keluhan tak berkurang, segeralah memeriksakannya ke dokter mata.
2. Obat Kumur. Air hangat yang telah dibubuhi sedikit garam merupakan pencuci mulut yang efektif. Begitu juga bila terkena radang tenggorokan. Masukkan sedikit garam ke dalam air panas, aduk perlahan lalu gunakan sebagai obat kumur.
3. Gigi Putih. Gigi yang terlihat kusam akan kembali cemerlang dengan cara menaburkan garam kering ke ujung bulu-bulu sikat gigi Anda saat akan menggosok gigi.
4. Sikat Gigi Awet. Merendam sikat gigi yang masih baru dalam larutan air garam akan membuat sikat gigi menjadi lebih awet dipakai.

Tips Dan Trik Cara Belajar Yang Baik 


Belajar merupakan hal yang wajib dilakukan oleh para pelajar dan mahasiswa. Belajar pada umumnya dilakukan di sekolah ketika jam pelajaran berlangsung dibimbing oleh Bapak atau Ibu Guru. Belajar yang baik juga dilakukan di rumah baik dengan maupun tanpa pr / pekerjaan rumah. Belajar yang dilakukan secara terburu-buru akibat dikejar-kejar waktu memiliki dampak yang tidak baik.
Berikut ini adalah tips dan triks yang dapat menjadi masukan berharga dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi ulangan atau ujian :
1. Belajar Kelompok
Belajar kelompok dapat menjadi kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan karena ditemani oleh teman dan berada di rumah sendiri sehingga dapat lebih santai. Namun sebaiknya tetap didampingi oleh orang dewasa seperti kakak, paman, bibi atau orang tua agar belajar tidak berubah menjadi bermain. Belajar kelompok ada baiknya mengajak teman yang pandai dan rajin belajar agar yang tidak pandai jadi ketularan pintar. Dalam belajar kelompok kegiatannya adalah membahas pelajaran yang belum dipahami oleh semua atau sebagian kelompok belajar baik yang sudah dijelaskan guru maupun belum dijelaskan guru.
2. Rajin Membuat Catatan Intisari Pelajaran
Bagian-bagian penting dari pelajaran sebaiknya dibuat catatan di kertas atau buku kecil yang dapat dibawa kemana-mana sehingga dapat dibaca di mana pun kita berada. Namun catatan tersebut jangan dijadikan media mencontek karena dapat merugikan kita sendiri.
3. Membuat Perencanaan Yang Baik
Untuk mencapai suatu tujuan biasanya diiringi oleh rencana yang baik. Oleh karena itu ada baiknya kita membuat rencana belajar dan rencana pencapaian nilai untuk mengetahui apakah kegiatan belajar yang kita lakukan telah maksimal atau perlu ditingkatkan. Sesuaikan target pencapaian dengan kemampuan yang kita miliki. Jangan menargetkan yang yang nomor satu jika saat ini kita masih di luar 10 besar di kelas. Buat rencana belajar yang diprioritaskan pada mata pelajaran yang lemah. Buatlah jadwal belajar yang baik.
4. Disiplin Dalam Belajar
Apabila kita telah membuat jadwal belajar maka harus dijalankan dengan baik. Contohnya seperti belajar tepat waktu dan serius tidak sambil main-main dengan konsentrasi penuh. Jika waktu makan, mandi, ibadah, dan sebagainya telah tiba maka jangan ditunda-tunda lagi. Lanjutkan belajar setelah melakukan kegiatan tersebut jika waktu belajar belum usai. Bermain dengan teman atau game dapat merusak konsentrasi belajar. Sebaiknya kegiatan bermain juga dijadwalkan dengan waktu yang cukup panjang namun tidak melelahkan jika dilakukan sebelum waktu belajar. Jika bermain video game sebaiknya pilih game yang mendidik dan tidak menimbulkan rasa penasaran yang tinggi ataupun rasa kekesalan yang tinggi jika kalah.
5. Menjadi Aktif Bertanya dan Ditanya
Jika ada hal yang belum jelas, maka tanyakan kepada guru, teman atau orang tua. Jika kita bertanya biasanya kita akan ingat jawabannya. Jika bertanya, bertanyalah secukupnya dan jangan bersifat menguji orang yang kita tanya. Tawarkanlah pada teman untuk bertanya kepada kita hal-hal yang belum dia pahami. Semakin banyak ditanya maka kita dapat semakin ingat dengan jawaban dan apabila kita juga tidak tahu jawaban yang benar, maka kita dapat membahasnya bersama-sama dengan teman. Selain itu
6. Belajar Dengan Serius dan Tekun
Ketika belajar di kelas dengarkan dan catat apa yang guru jelaskan. Catat yang penting karena bisa saja hal tersebut tidak ada di buku dan nanti akan keluar saat ulangan atau ujian. Ketika waktu luang baca kembali catatan yang telah dibuat tadi dan hapalkan sambil dimengerti. Jika kita sudah merasa mantap dengan suatu pelajaran maka ujilah diri sendiri dengan soal-soal. Setelah soal dikerjakan periksa jawaban dengan kunci jawaban. Pelajari kembali soal-soal yang salah dijawab.
7. Hindari Belajar Berlebihan
Jika waktu ujian atau ulangan sudah dekat biasanya kita akan panik jika belum siap. Jalan pintas yang sering dilakukan oleh pelajar yang belum siap adalah dengan belajar hingga larut malam / begadang atau membuat contekan. Sebaiknya ketika akan ujian tetap tidur tepat waktu karena jika bergadang semalaman akan membawa dampak yang buruk bagi kesehatan, terutama bagi anak-anak.
8. Jujur Dalam Mengerjakan Ulangan Dan Ujian
Hindari mencontek ketika sedang mengerjakan soal ulangan atau ujian. Mencontek dapat membuat sifat kita curang dan pembohong. Kebohongan bagaimanapun juga tidak dapat ditutup-tutupi terus-menerus dan cenderung untuk melakukan kebohongan selanjutnya untuk menutupi kebohongan selanjutnya. Anggaplah dengan nyontek pasti akan ketahuan guru dan memiliki masa depan sebagai penjahat apabila kita melakukan kecurangan.
Semoga tips cara belajar yang benar ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua, amin.

sumber:http://organisasi.org/tips-dan-trik-cara-belajar-yang-baik-untuk-ujian-ulangan-pelajaran-sekolah-bagi-siswa-sd-smp-sma-serta-mahasiswa

Apa itu Ikhlas? Apa itu Ibadah?


Kebanyakan orang beranggapan bahwa ikhlas adalah memberikan sesuatu, sedekah, infaq, zakat, dan lain-lain dengan tidak ada rasa keberatan pada hati. Saya nggak mengerti apakah hal ini benar atau salah. Saya cuma ingin membahasnya dari persepsi yang berbeda.

Beberapa minggu yang lalu, kalo tidak salah dua minggu yang lalu, saya menunaikan sholat jum’at di masjid Manarul Ilmi ITS. Saat saya mendengarkan ceramahnya saya menemukan sesuatu yang menarik. Sebuah persepsi yang berbeda dari definisi ikhlas dan ibadah.


Sang Penceramah bercerita tentang persepsi yang baru dari ikhlas. Ikhlas, menurutnya, adalah jika kita menyumbangkan sesuatu, sedangkan hati kita berat untuk melakukannya, namun tetap kita lakukan. Jika kita berinfaq di masjid Rp 1000, mungkin tidak masalah bagi kita, karena toh itu uang yang sedikit. Tapi bagaimana saat kita akan menyumbangkan Rp 100.000 kedalam kotak infaq masjid? Bukankah akan terbesit rasa ‘sayang nih uang gedhe’. Nah saat kita merasa seperti inilah keikhlasan kita benar-benar diuji. Apakah kita akan mengurungkan niat kita, atau akan tetap kita sumbangkan? Dan tantangannya tidak berakhir sampai disitu saja. Setelah uang kita sedekahkan pun, apakah kita akan terus memikirkan amal yang baru saja kita lakukan, atau akan terus kita pikirkan dan kita bayang-bayangkan?


Lalu sang penceramah bercerita tentang ibadah. Tentang hal-hal yang dilarang oleh Alloh kepada hambanya, adalah justru hal-hal yang disenangi manusia. Dan justru perintah-perintahNya adalah yang manusia malas untuk lakukan.


Contoh kongkritnya, adalah larangan untuk makan kekenyangan, padahal kecenderungan manusia adalah untuk makan sekenyang-kenyangnya. Larangan untuk berzina, padahal adalah kecenderungan manusia untuk melakukan sex bebas. Larangan untuk ghibah (ngrasani), padahal adalah kecenderungan wanita untuk melakukannya (hayo... ibu-ibu ngaku... :p)


Dalam hal perintah juga sama, siapa sih yang nggak berat untuk bangun jam 2 pagi, dingin-dingin, wudhu, trus sholat tahajjud? Siapa sih yang nggak berat untuk menyumbangkan seluruh hartanya untuk kepentingan kaum muslimin, seperti yang dilakukan oleh Abu Bakr Rodhiallohu Anhu? Siapa yang sama sekali nggak ada rasa berat dihati untuk sholat lima waktu di masjid (bagi laki-laki)? Siapa yang lebih suka hari-hari saat berpuasa dibandingkan dengan hari-hari berbuka (tidak berpuasa)?


Maka disinilah letak tingkat keimanan dan ketaqwaan kita kepada Alloh. Apakah kita hanya akan mau mengikuti perintah-perintah yang kita suka saja? Sementara perintah yang tidak kita suka kita tinggalkan. Apakah kita hanya akan meninggalkan larangan-larangan yang kita tidak sukai, sementara larangan yang kita sukai tetap kita lakukan?


Termasuk yang manakah kita? Apakah kita akan terus menutup mata dan tetap pada kebiasaan kita? Bukankah saat datang perintah Alloh seharusnya kita mengatakan,”sami’na wa atho’na” (kami dengar, dan kami taat).


Semoga sedikit wacana ini dapat mengisi sebagian kekosongan di hati kita. Jika ada benarnya, maka itu semua datangnya dari Alloh. Dan jika ada yang salah, maka itu datangnya dari iblis dan kebodohan saya. Dan sesungguhnya Alloh adalah Dzat yang Maha Suci dari kesalahan. 


sumber:

Jumat, 21 Oktober 2011

Luruskan Lisanku Ya Robb..


Disebutkan dalam Musnad Imam Ahmad, dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
"Tidak akan lurus keimanan seorang hamba, sehingga lurus hatinya, dan tidak akan lurus hatinya, sehingga lurus lidahnya."

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadikan syarat lurusnya iman dengan lurusnya hati, kemudian menjadikan syarat lurusnya hati dengan lurusnya lisan.

Dalam kitab Sunan at-Tirmidzi, disebutkan suatu riwayat dari Ibnu Umar r.a., Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
"Janganlah memperbanyak kata (bicara) selain dzikrullah, karena banyak bicara selain dzikrullah menjadikan hati keras. Dan orang yang terjauh dari Allah adalah yang berhati keras."

Umar bin Khaththab r.a. berkata, "Barangsiapa banyak bicaranya, maka banyak kesalahannya, dan orang yang banyak salahnya berarti banyak dosanya, sehingga nerakalah sebaik-baik tempat bagi mereka."

Di dalam salah satu hadits dari Mu'adz, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Maukah kamu jika saya katakan kepadamu tentang sendi dari semua kebaikan itu?" Aku (Mu'adz) menjawab, "Tentu, ya Rasulullah." Maka beliau menunjuk pada lidahnya, seraya berkata, "Jagalah ini!" Aku berkata, "Ya Nabi Allah, apakah kami akan memperoleh siksa akibat ucapan kami?" "Betapa celakanya engkau wahai Mu'adz, bukankah orang-orang yang tersungkur ke dalam neraka itu, melainkan hasil menabur fitnah melalui lidah-lidah mereka, akhirnya menuai siksa-Nya?" (HR Tirmidzi dan Hakim).

Makna dari hadits tersebut ialah, bahwa pada hakikatnya manusia hidup di dunia ini menaburkan benih-benih kebaikan dan keburukan yang ditimbulkan ucapannya. Barangsiapa menanam kebaikan, berupa ucapan dan perbuatan, iapun akan memanen kemuliaan, dan barangsiapa yang menanam kejelekan, maka ia pun memanen kekecewaan.

Hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah menyebutkan:
"Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah melalui dua lubang; mulut dan farji (kemaluan)." (HR Tirmidzi dalam Al-Birru wash-Shilah)

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Uqbah bin 'Amir berkata kepada Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Ya Rasulullah, apakah keselamatan itu?" Beliau menjawab: "Jagalah lidahmu, luaskanlah rumahmu, dan menangislah atas kesalahan dan dosa-dosamu." (HR Bukhari-Muslim)

Selanjutnya Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
"Barangsiapa yang dapat memberikan jaminan kepadaku untuk menjaga sesuatu yang berada di antara kedua dagu (lisannya) dan kedua pahanya (kemaluannya), maka aku akan menjaminnya masuk surga." (HR Bukhari)

Dan sabda beliau dalam kedua kitab Shahih Bukhari-Muslim:
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, maka hendaknya berkata yang baik atau diam." (HR Bukhari)

Dari Ummu Habibah, dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda:
"Semua ucapan manusia akan memberatinya, tidak meringankan baginya, kecuali amar ma'ruf nahi munkar dan dzikrullah Subhanahu wa Ta'Ala." (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Abdullah bin Mas'ud berkata, "Demi Allah, yang tiada tuhan selain Dia, tidak ada sesuatu yang paling penting untuk dikunci selama-lamanya selain lisanku ini." Beliau pun pernah berkata, "Wahai lisanku, katakan yang baik, engkau akan beruntung. Jangan berkata buruk, engkau akan selamat. Ingatlah dan perhatikan itu, sebelum engkau menyesal."

Sementara Ibnu Abbas r.a. berkata, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Hurairah, "Sesungguhnya telah sampai keterangan kepadaku, bahwa tiada satu anggota tubuh yang lebih memberati manusia di hari Kiamat, selain lidahnya. Kecuali bagi orang yang menggunakannya untuk mengatakan yang hak atau mengajarkan yang baik."

Imam Hasan al-Bashri berkata, "Belum memahami agama, orang yang tidak menjaga lisannya."

Bahaya terkecil yang ditimbulkan lidah adalah berkata-kata tentang sesuatu yang tidak bermanfaat (sia-sia) sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Diantara kebaikan agama (Islam) dari seseorang ialah apabila ia mau meninggalkan apa yang tidak berguna baginya." (HR Tirmidzi dan Ahmad).

Dari Abu 'Ubaidah meriwayatkan, bahwa Hasan al-Bashri berkata, "Di antara penyebab berpalingnya Allah dari hamba-Nya yaitu, jika hamba-Nya suka menyibukkan diri dengan sesuatu yang sia-sia baginya; sebagai penghinaan Allah terhadapnya."

Itulah bahaya lisan yang teringan. Bisa kita bayangkan alangkah berbahayanya ghibah, adu domba, ucapan batil dan keji, dusta, berbantah-bantahan yang mengandung permusuhan, penghinaan, makian dan sebagainya. Semoga Allah menolong kita.

Ya Allah, luruskanlah lisanku.....
luruskanlah lisanku....
luruskanlah lisanku..... amien.


taken from: -->
Stategik Syaitan Membuka Aurat Muslimah



Syaitan dalam menggoda manusia memiliki berbagai cara strategi, dan yang sering dipakai adalah dengan memanfaatkan hawa nafsu, yang memang memiliki kecenderungan mengajak kepada keburukan (ammaratun bis su'). Syaitan seakan mengetahui kecenderungan nafsu kita, dia terus berusaha agar manusia keluar dari garis yang telah ditentukan Allah, termasuk melepaskan hijab atau pakaian muslimah.

Berikut adalah cara bertahap:

I. Menghilangkan Definisi Hijab
Dalam tahap ini syaitan membisikkan kepada para wanita, bahawa pakaian apapun termasuk hijab (penutup) itu tidak ada kaitannya dengan agama, ia hanya sekadar pakaian atau gaya hiasan bagi para wanita. Jadi tidak ada pakaian syar'i, pakaian, dengan apa pun bentuk dan namanya tetap pakaian.

Sehingga akibatnya, ketika zaman telah berubah, atau kebudayaan manusia telah berganti, maka tidak ada masalah pakaian ikut ganti juga. Demikian pula ketika seseorang berpindah dari suatu negeri ke negeri yang lain, maka harus menyesuaikan diri dengan pakaian penduduknya, apapun yang mereka pakai. Berbeza halnya jika seorang wanita berkeyakinan, bahawa hijab adalah pakaian syar'i (identiti keislaman), dan memakainya adalah ibadah bukan sekadar gaya ( fesyen ). Biarpun hidup bila saja dan di mana saja, maka hijab syar'i tetap dipertahankan. .

Apabila seorang wanita masih bertahan dengan prinsip hijabnya, maka syaitan beralih dengan strategi yang lebih halus. Caranya?

Pertama, Membuka Bahagian Tangan
Telapak tangan mungkin sudah kebiasaannya terbuka, maka syaitan membisikkan kepada para wanita agar ada sedikit peningkatan model yakni membuka bahagian hasta (siku hingga telapak tangan). "Ah tidak ! apa-apa, kan masih pakai jilbab dan pakai baju panjang? Begitu bisikan syaitan. Dan benar si wanita akhirnya memakai pakaian model baru yang menampakkan tangannya, dan ternyata para lelaki melihatnya juga seperti biasa saja. Maka syaitan berbisik," Tu.. tidak apa-apa kan?

Kedua, Membuka Leher dan Dada
Setelah menampakkan tangan menjadi kebiasaan, maka datanglah syaitan untuk membisikkan perkara baru lagi. "Kini buka tangan sudah menjadi lumrah, maka perlu ada peningkatan model pakaian yang lebih maju lagi, yakni terbuka bahagian atas dada kamu." Tapi jangan sebut sebagai pakaian terbuka, hanya sekadar sedikit untuk mendapatkan hawa, agar tidak panas. Cubalah! Orang pasti tidak akan peduli, sebab hanya sebahagian kecil sahaja yang terbuka.

Maka dipakailah pakaian fesyen terbaru yang terbuka bahagian leher dan dadanya dari yang fesyen setengah lingkaran hingga yang fesyen bentuk huruf "V" yang tentu menjadikan lebih terlihat lagi bahagian sensitif lagi dari dadanya.

Ketiga, Berpakaian Tapi Telanjang
Syaitan berbisik lagi, "Pakaian mu hanya gitu-gitu saja, yak "cool" cari fesyen atau bahan lain yang lebih bagus! Tapi apa ya? Si wanita berfikir. "Banyak fesyen dan kain yang agak tipis, lalu bentuknya dibuat yang agak ketat biar lebih sedap/cantik dipandang," syaitan memberi idea baru.

Maka tergodalah si wanita, dicarilah fesyen pakaian yang ketat dan kain yang tipis bahkan transparent. "Mungkin tak ada masalah, kan potongan pakaiannya masih panjang, hanya bahan dan fesyennya saja yang agak berbeza, biar nampak lebih feminin," begitu dia menokok-nambah. Walhasil pakaian tersebut akhirnya membudaya di kalangan wanita muslimah, makin hari makin bertambah ketat dan transparent, maka jadilah mereka wanita yang disebut oleh Nabi sebagai wanita
kasiyat 'ariyat (berpakaian tetapi telanjang).

Keempat, Agak di Buka Sedikit
Setelah para wanita muslimah mengenakan pakaian yang ketat, maka syaitan datang lagi. Dan sebagaimana biasanya dia menawarkan idea baru yang sepertinya "cool" dan "vogue", yakni dibisikkan kepada wanita itu, "Pakaian seperti ini membuat susah berjalan atau duduk, soalnya sempit, apa tak sebaiknya di belah hingga lutut atau mendekati paha?" Dengan itu kamu akan lebih selesa, lebih kelihatan lincah dan energik." Lalu dicubalah idea baru itu, dan memang benar dengan dibelah mulai dari bahagian bawah hingga lutut atau mendekati paha ternyata membuat lebih selesa dan leluasa, terutama ketika akan duduk atau naik kenderaan. "Yah.... tersingkap sedikit tak apa-apa lah, yang penting enjoy," katanya.

Inilah tahapan awal syaitan merosak kaum wanita, hingga tahap ini pakaian masih tetap utuh dan panjang, hanya fesyen, corak, potongan dan bahan saja yang dibuat berbeza dengan hi! jab syar'i yang sebenarnya. Maka kini mulailah syaitan pada tahap berikutnya.

II. Terbuka Sedikit Demi Sedikit
Kini syaitan melangkah lagi, dengan tipu daya lain yang lebih "power", tujuannya agar para wanita menampakkan bahagian aurat tubuhnya.

Pertama, Membuka Telapak Kaki dan Tumit
Syaitan Berbisik kepada para wanita, "Baju panjang benar-benar tidak selesa, kalau hanya dengan membelah sedikit bahagiannya masih kurang leluasa, lebih elok kalau dipotong sahaja hingga atas mata kaki." Ini baru agak longgar. "Oh...... ada yang yang terlupa, kalau kamu pakai baju sedemikian, maka jilbab yang besar tidak sepadan lagi, sekarang kamu cari jilbab yang kecil agar lebih serasi dan sepadan, ala....... orang tetap menamakannya dengan jilbab."

Maka para wanita yang terpengaruh dengan bisikan ini terburu-buru mencari fesyen ! pakaian yang dimaksudkan. Tak ketinggalan kasut tumit tinggi, yang kalau untuk berjalan, dapat menarik perhatian orang.

Kedua, Membuka Seperempat Hingga Separuh Betis
Terbuka telapak kaki telah biasa ia lakukan, dan ternyata orang yang melihat juga tidak begitu ambil peduli. Maka syaitan kembali berbisik, "Ternyata kebanyakan manusia menyukai apa yang kamu lakukan, buktinya mereka tidak ada reaksi apa-apa, kecuali hanya beberapa orang. Kalau langkah kakimu masih kurang leluasa, maka cubalah kamu cari fesyen lain yang lebih menarik, bukankah kini banyak skirt separuh betis dijual di pasaran? Tidak usah terlalu terdedah, hanya terlihat kira-kira sepuluh centimetre saja." Nanti kalau sudah biasa, baru kamu cari fesyen baru yang terbuka hingga separuh betis."

Benar-benar bisikan syaitan dan hawa nafsu telah menjadi penasihat peribadinya, sehingga apa yang saja yang dibisikkan syaitan dalam jiwan! ya dia turutkan. Maka terbiasalah dia memakai pakaian yang terlihat separuh betisnya kemana saja dia pergi.

Ketiga, Terbuka Seluruh Betis
Kini di mata si wanita, zaman benar-benar telah berubah, syaitan telah berhasil membalikkan pandangan jernihnya. Terkadang si wanita berfikir, apakah ini tidak menyelisihi para wanita di masa Nabi dahulu. Namun bisikan syaitan dan hawa nafsu menyahut, "Ah jelas tidak, kan sekarang zaman sudah berubah, kalau zaman dulu para lelaki mengangkat pakaiannya hingga setengah betis, maka wanitanya harus menyelisihi dengan menjulurkannya hingga menutup telapak kaki, tapi kini lain, sekarang banyak lelaki yang menurunkan pakaiannya hingga bawah mata kaki, maka wanitanya harus menyelisihi mereka iaitu dengan mengangkatnya hingga setengah betis atau kalau perlu lebih ke atas lagi, sehingga nampak seluruh betisnya."

Tetapi? apakah itu tidak menja! di fitnah bagi kaum lelaki," bersungut. "Fitnah? Ah...... itu kan zaman dulu, di masa itu kaum lelaki tidak suka kalau wanita menampakkan auratnya, sehingga wanita-wanita mereka lebih banyak di rumah dan pakaian mereka sangat tertutup. Tapi sekarang sudah berbeza, kini kaum lelaki kalau melihat bahagian tubuh wanita yang terbuka, malah senang dan mengatakan ooh atau wow, bukankah ini bererti sudah tidak ada lagi fitnah, kerana sama- sama suka? Lihat saja fesyen pakaian di sana-sini, dari yang di pasar malam hingga yang berjenama di pusat membeli belah, semuanya memperagakan fesyen yang dirancang khusus untuk wanita maju di zaman ini. Kalau kamu tidak mengikutinya, akan menjadi wanita yang ketinggalan zaman."

Demikianlah, maka pakaian yang menampakkan seluruh betis akhirnya menjadi kebiasaan, apalagi ramai yang memakainya dan sedikit sekali orang yang mempersoalkannya. Kini tibalah saatnya syaitan melancarkan tahap terakhir dari tipu dayannya untuk melucuti hijab wanita.

III. Serba Mini
Setelah pakaian yang menampakkan betis menjadi pakaian sehari- harian dan dirasa biasa-biasa saja, maka datanglah bisikan syaitan yang lain. "Pakaian memerlukan variasi, jangan yang itu-itu saja, sekarang ini fesyen skirt mini, dan agar sepadan, rambut kepala harus terbuka, sehingga benar-benar kelihatan indah."

Maka akhirnya skirt mini yang menampakkan bahagian bawah paha dia pakai, bajunya pun bervariasi, ada yang terbuka hingga lengan tangan, terbuka bahagian dada sekaligus bahagian punggungnya dan berbagai fesyen lain yang serba pendek dan mini. Koleksi pakaiannya sangat beraneka ragam, ada pakaian untuk berpesta, bersosial, pakaian kerja, pakaian rasmi, pakaian malam, petang, musim panas, musim sejuk dan lain-lain, tak ketinggalan seluar pendek separuh paha pun dia miliki, fesyen dan warna rambut juga ikut bervariasi, semuanya telah dicuba. Begitulah sesuatu yang sepertinya mu! stahil untuk dilakukan, ternyata kalau sudah dihiasi oleh syaitan, maka segalanya menjadi serba mungkin dan diterima oleh manusia.

Hingga suatu ketika, muncul idea untuk mandi di kolam renang terbuka atau mandi di pantai, di mana semua wanitanya sama, hanya dua bahagian paling ketara saja yang tersisa untuk ditutupi, kemaluan dan buah dada. Mereka semua mengenakan pakaian yang sering disebut dengan "bikini". Kerana semuanya begitu, maka harus ikut begitu, dan na'udzubillah bisikan syaitan berhasil, tujuannya tercapai, "Menelanjangi Kaum Wanita."

Selanjutnya terserah kamu wahai wanita, kalian semua sama, telanjang di hadapan lelaki lain, di tempat umum. Aku berlepas diri kalau nanti kelak kalian sama-sama di neraka. Aku hanya menunjukkan jalan, engkau sendiri yang melakukan itu semua, maka tanggung sendiri semua dosamu" Syaitan tak ingin ambil risiko.

Penutup
Demikian halus,! cara yang digunakan syaitan, sehingga manusia terjerumus dalam dosa tanpa terasa. Maka hendaklah kita semua, terutama orang tua jika melihat gejala menyimpang pada anak-anak gadis dan para wanita kita sekecil apapun, segera secepatnya diambil tindakan. Jangan biarkan berlarut-larutan, kerana kalau dibiarkan dan telah menjadi kebiasaan, maka sakan menjadi sukar bagi kita untuk mengatasinya. Membiarkan mereka membuka aurat bererti merelakan mereka mendapatkan laknat Allah, kasihanilah mereka, selamatkan para wanita muslimah, jangan jerumuskan mereka ke dalam kebinasaan yang menyengsarakan, baik di dunia mahupun di akhirat.

Wallahu a'lam bisshawab.

Sumber idea dan buah fikiran: Kitab "At ta'ari asy syaithani", Adnan ath-Thursyah
sumber:http://drmindailmu.blogspot.com/2010/07/stategik-syaitan-membuka-aurat-muslimah.html

Rabu, 19 Oktober 2011

Selayang Pandang EEPIS-ITS

Politeknik Elektronika & Telekomunikasi, in short: PET (1988 to 1992).
Although EEPIS officially opened in June, 2,1988 by the President of Indonesia at that time, Suharto its history dates back to 1985 when JICA preliminary Study Team for grant aid and technical cooperation came to EEPIS. The head of the team was Prof. Y. Naito (Tokyo Institute of Technology) came. At that time they were also supported by JICA Curriculum Study Team. Then, in 1987 JICA Technical cooperation started, after observed the possibility of cooperation (1986).
2nd_06.jpgThis time, The first group of 5 lecturers were sent to colleges of technology in Japan. In March, 15, 1988 EEPIS building and educational equipment were officially granted to Indonesian Government and officially opened in June, 2, 1988. Since this year, our first class has started and then many lecturers were sent to colleges of technology in Japan. Many groups of Japanese Expert also arrived to support us. In 1988, EEPIS was named Politeknik Elektronika & Telekomunikasi, in order to meet the demand of graduation, who can give guidance in handling operation, control, maintenance and proper application of new technology and equipment.
Politeknik Elektronika Surabaya, in short: PES (1992 to 1996)
In June, 1991 Ministry of Education and Culture started to arrange all Polytechnic in Indonesia which was grown in Institutes and Universities in Indonesia. Then it was renamed Politeknik Elektronika Surabaya (PES) which is a part of Sepuluh Nopember Institute of Technology.
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, in short: PENS (1996 to date)
In 1996, this polytechnic was renamed Politeknik Elektronika Negeri Surabaya by the Ministry of Education and Culture. Currently, Sepuluh Nopember Institute of Technology had 5 faculties and 2 polytechnics. Each Faculty was headed by a dean, and each Polytechnic is headed by a director. Because of historical reason, those two polytechnics are managed separately based on independent and autonomous scheme. EEPIS runs a full-time 3 years course namely DIPLOMA 3 and a full-time 4 years course namely DIPLOMA 4.
Director of EEPIS :
  1. Ir. Susanto (1988 - 1997)
  2. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA (1997-2002)
  3. Dr. Ir. Titon Dutono, M.Eng ( 2002 - 2009)
  4. Ir. Dadet Pramadihanto, M.Eng, Ph.D ( 2009 - now)

VISION & MISSION

  1. EEPIS Vision is to be a 'center of excellent' of professional engineering education in electronic-related field nationally and internationally as well.
  2. EEPIS Mission are:
    • To produce professional and open-minded graduation, ready to compete in global market, by providing an excellent academic atmosphere for the student.
    • To actively involved in development and enhancement of Indonesian Polytechnic Education system as EEPIS being the National Resources Polytechnic
    • To carry out an applied oriented research which actually solve the industrial problem and community services to the society; both of them are the synergetic activities of EEPIS as professional education provider.
    • To develop and implement the academic moral ethic values

THE CAMPUS & STUDY PROGRAMME

THE CAMPUS
eepis3
The Japan International Cooperation Agency (JICA) plays an important role in Japan's Official Development Assistance by providing the developing countries all over the world with technical cooperation and grant aid cooperation. This institution, EEPIS was financed by 1,895,000,000- yen grant from JICA under Japanese Government (first phase, 1988). And in the second phase (2002), EEPIS again was granted 1,822,000,000- yen, also from JICA under Japanese Government. All grant is for the building construction and educational equipments.
EEPIS building has a floor area of approximately 25.000 m2, located in a 6 ha area and it is a part of ITS campus in Surabaya. The EEPIS buildings consist of administration offices, labs, workshops, final project rooms, lecture and seminar rooms, libraries, a student dormitory, a canteen. EEPIS is also supported by a large parking area & Small Mosques (musholla). In line with its target to produce skilled and knowledgeable middle management technicians, EEPIS is fully equipped with sophisticated study facilities, for all practice and theory purposes. The modern labs have up-to-date equipment, like a full range of standard measuring instruments, electronics-related trainers and demo tools, communication equipment currently used in the industry, micro computers, over-head and video projectors, and also data projectors.
STUDY PROGRAMMES
EEPIS offer a full-time 3 years course namely Diploma III (four weeks in plant,training in industry) and a full-time 4 years course namely Diploma IV (teaching staff of polytechnic). We also run many trainings for many purposes. Diploma III has 5 majors, they are: Electronic Engineering, Telecommunication Engineering, Electro-Industry Engineering, Informatic Engineering and Multimedia Broadcasting Technology. While Diploma IV has 6 major, they are: Electronic Engineering, Telecommunication Engineering, Electro-Industry Engineering, Informatic Engineering, Mechatronic Engineering and Computer Engineering.

Selasa, 20 September 2011