Luruskan Lisanku Ya Robb..
Disebutkan dalam Musnad Imam Ahmad, dari Anas bin Malik, bahwa
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
"Tidak akan lurus keimanan seorang hamba, sehingga lurus hatinya,
dan tidak akan lurus hatinya, sehingga lurus lidahnya."
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadikan syarat lurusnya
iman dengan lurusnya hati, kemudian menjadikan syarat lurusnya hati
dengan lurusnya lisan.
Dalam kitab Sunan at-Tirmidzi, disebutkan suatu riwayat dari Ibnu
Umar r.a., Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
"Janganlah memperbanyak kata (bicara) selain dzikrullah, karena
banyak bicara selain dzikrullah menjadikan hati keras. Dan orang yang
terjauh dari Allah adalah yang berhati keras."
Umar bin Khaththab r.a. berkata, "Barangsiapa banyak bicaranya, maka
banyak kesalahannya, dan orang yang banyak salahnya berarti banyak
dosanya, sehingga nerakalah sebaik-baik tempat bagi mereka."
Di dalam salah satu hadits dari Mu'adz, Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda, "Maukah kamu jika saya katakan kepadamu
tentang sendi dari semua kebaikan itu?" Aku (Mu'adz) menjawab, "Tentu,
ya Rasulullah." Maka beliau menunjuk pada lidahnya, seraya berkata,
"Jagalah ini!" Aku berkata, "Ya Nabi Allah, apakah kami akan memperoleh
siksa akibat ucapan kami?" "Betapa celakanya engkau wahai Mu'adz,
bukankah orang-orang yang tersungkur ke dalam neraka itu, melainkan
hasil menabur fitnah melalui lidah-lidah mereka, akhirnya menuai
siksa-Nya?" (HR Tirmidzi dan Hakim).
Makna dari hadits tersebut ialah, bahwa pada hakikatnya manusia
hidup di dunia ini menaburkan benih-benih kebaikan dan keburukan yang
ditimbulkan ucapannya. Barangsiapa menanam kebaikan, berupa ucapan dan
perbuatan, iapun akan memanen kemuliaan, dan barangsiapa yang menanam
kejelekan, maka ia pun memanen kekecewaan.
Hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan
oleh Abu Hurairah menyebutkan:
"Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah
melalui dua lubang; mulut dan farji (kemaluan)." (HR Tirmidzi dalam
Al-Birru wash-Shilah)
Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Uqbah bin 'Amir berkata
kepada Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Ya Rasulullah, apakah
keselamatan itu?" Beliau menjawab: "Jagalah lidahmu, luaskanlah rumahmu,
dan menangislah atas kesalahan dan dosa-dosamu." (HR Bukhari-Muslim)
Selanjutnya Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
"Barangsiapa yang dapat memberikan jaminan kepadaku untuk menjaga
sesuatu yang berada di antara kedua dagu (lisannya) dan kedua pahanya
(kemaluannya), maka aku akan menjaminnya masuk surga." (HR Bukhari)
Dan sabda beliau dalam kedua kitab Shahih Bukhari-Muslim:
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, maka
hendaknya berkata yang baik atau diam." (HR Bukhari)
Dari Ummu Habibah, dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang
bersabda:
"Semua ucapan manusia akan memberatinya, tidak meringankan baginya,
kecuali amar ma'ruf nahi munkar dan dzikrullah Subhanahu wa Ta'Ala." (HR
Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Abdullah bin Mas'ud berkata, "Demi Allah, yang tiada tuhan selain
Dia, tidak ada sesuatu yang paling penting untuk dikunci selama-lamanya
selain lisanku ini." Beliau pun pernah berkata, "Wahai lisanku, katakan
yang baik, engkau akan beruntung. Jangan berkata buruk, engkau akan
selamat. Ingatlah dan perhatikan itu, sebelum engkau menyesal."
Sementara Ibnu Abbas r.a. berkata, sebagaimana yang diriwayatkan Abu
Hurairah, "Sesungguhnya telah sampai keterangan kepadaku, bahwa tiada
satu anggota tubuh yang lebih memberati manusia di hari Kiamat, selain
lidahnya. Kecuali bagi orang yang menggunakannya untuk mengatakan yang
hak atau mengajarkan yang baik."
Imam Hasan al-Bashri berkata, "Belum memahami agama, orang yang
tidak menjaga lisannya."
Bahaya terkecil yang ditimbulkan lidah adalah berkata-kata tentang
sesuatu yang tidak bermanfaat (sia-sia) sebagaimana sabda Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Diantara kebaikan agama (Islam) dari
seseorang ialah apabila ia mau meninggalkan apa yang tidak berguna
baginya." (HR Tirmidzi dan Ahmad).
Dari Abu 'Ubaidah meriwayatkan, bahwa Hasan al-Bashri berkata, "Di
antara penyebab berpalingnya Allah dari hamba-Nya yaitu, jika hamba-Nya
suka menyibukkan diri dengan sesuatu yang sia-sia baginya; sebagai
penghinaan Allah terhadapnya."
Itulah bahaya lisan yang teringan. Bisa kita bayangkan alangkah
berbahayanya ghibah, adu domba, ucapan batil dan keji, dusta,
berbantah-bantahan yang mengandung permusuhan, penghinaan, makian dan
sebagainya. Semoga Allah menolong kita.
Ya Allah, luruskanlah lisanku.....
luruskanlah lisanku....
luruskanlah lisanku..... amien.
taken from:
-->
Tidak ada komentar:
Posting Komentar