ingin sekali kuceritakan tentang
kita. tentang satu tahun kebersamaan kita dalam amal jama'i ini.
mungkin kisah kita sedikit
berbeda. Ya, kisah kita berbeda dengan kisahmu kakak, dengan kisahmu adek.
Jika kebanyakan tantangan jama’ah
dakwah adalah bersumber pada target dakwahnya. Kita agaknya tak termasuk dalam
kebanyakan jama’ah itu. Tantangan jama’ah dakwah kita adalah pada anggota
jama’ah kita sendiri.
ku lihat sendiri betapa seringnya
air mata menetes dalam pipi-pipi mereka. Tak jarang ku dengar sendiri
kisah-kisah menyakitkan dari mulut-mulut mereka, peluh kesah, putus asa, sampai
kata2 untuk menyemangati dirinya sendiri.
Betapa tidak, rapat sepi orang,
kegiatan sepi orang, pesan tak kunjung dapat balasan, pendapat terabaikan,
pemberitahuan tak dapat konfirmasi, serasa tak terorangkan. Perbedaan pandangan
malah jadi boomerang dalam keutuhan jama’ah kita. Entah disisi mana kita ada
kesalahan. Sampai keberkahan dakwah seolah enggan mendekati kita.
Kondisi anggota jama’ah yang tak
karuan itu, tak urung menyebabkan tantangan untuk mencapai target dakwah jauh
lebih terasa berat.
Jadi bukan berarti karena saya
katakan tantangan jama’ah kita dari internal, kemudian eksternal kita baik-baik
saja atau mulus-mulus saja. Justru karena internal kita yang tandus ini,
eksternal kita bisa dibayangkan gimana kondisinya.
Gimana bisa kita menjalankan
tugas langit ini tanpa ukhuwah? Gimana bisa kita menyeru umat islam untuk
bersatu, jika penyerunya saja belum bersatu dalam jama’ahnya?
Jika pasukan-pasukan dakwahnya
saja tak punya azam yang kokoh, tak punya semangat juang, barisannya masih
bolong-bolong, gimana bisa kita mau berperang? Jika pun memang terpaksa
berperang, pasukan-pasukan yang telah dalam barisan itu lah yang mau tak mau
mengeluarkan effort terbesar mereka, setidaknya agar mereka tak terbunuh. Kata
kemenangan mungkin jauh dari pikiran mereka. Yang ada dalam pikiran mereka
sederhana saja. Mereka bisa mempertahakankan aqidah mereka, mempertahankan
agama mereka, itu sudah cukup.
Sampai pada akhirnya kita
dipisahkan dari jama’ah ini, karena amanah yang sudah harus berpindah tangan.
Setahun kepengurusan itu berlalu begitu saja. Entah apa efeknya kepengurusan
satu tahun itu? Aku tak tahu. Mungkin kepengurusan itu tak banyak memberikan
kontribusi untuk dakwah kampus kita tercinta ini. Maafkan kami, kakakku,
adekku..
Teruntuk kalian teman juangku, yang
mampu dan mau berjuang dalam kondisi yang tandus. Saya mencintai kalian saudara
muslim ku. Atas ukhuwah yang berantakan ini, kita semua tau, bahwa ini akibat
iman kita yang rombeng. Terlebih sering imankulah yang rombeng. afwan.
Kini aku merindukan kalian, pasukan yang tandus.
Ingin kusampaikan rasa maafku atas imanku yang compang camping ini.