Kamis, 26 Juni 2014

Cerita satu tahun Kita

ingin sekali kuceritakan tentang kita. tentang satu tahun kebersamaan kita dalam amal jama'i ini.
mungkin kisah kita sedikit berbeda. Ya, kisah kita berbeda dengan kisahmu kakak, dengan kisahmu adek.
Jika kebanyakan tantangan jama’ah dakwah adalah bersumber pada target dakwahnya. Kita agaknya tak termasuk dalam kebanyakan jama’ah itu. Tantangan jama’ah dakwah kita adalah pada anggota jama’ah kita sendiri.
ku lihat sendiri betapa seringnya air mata menetes dalam pipi-pipi mereka. Tak jarang ku dengar sendiri kisah-kisah menyakitkan dari mulut-mulut mereka, peluh kesah, putus asa, sampai kata2 untuk menyemangati dirinya sendiri.
Betapa tidak, rapat sepi orang, kegiatan sepi orang, pesan tak kunjung dapat balasan, pendapat terabaikan, pemberitahuan tak dapat konfirmasi, serasa tak terorangkan. Perbedaan pandangan malah jadi boomerang dalam keutuhan jama’ah kita. Entah disisi mana kita ada kesalahan. Sampai keberkahan dakwah seolah enggan mendekati kita.
Kondisi anggota jama’ah yang tak karuan itu, tak urung menyebabkan tantangan untuk mencapai target dakwah jauh lebih terasa berat.
Jadi bukan berarti karena saya katakan tantangan jama’ah kita dari internal, kemudian eksternal kita baik-baik saja atau mulus-mulus saja. Justru karena internal kita yang tandus ini, eksternal kita bisa dibayangkan gimana kondisinya.
Gimana bisa kita menjalankan tugas langit ini tanpa ukhuwah? Gimana bisa kita menyeru umat islam untuk bersatu, jika penyerunya saja belum bersatu dalam jama’ahnya?
Jika pasukan-pasukan dakwahnya saja tak punya azam yang kokoh, tak punya semangat juang, barisannya masih bolong-bolong, gimana bisa kita mau berperang? Jika pun memang terpaksa berperang, pasukan-pasukan yang telah dalam barisan itu lah yang mau tak mau mengeluarkan effort terbesar mereka, setidaknya agar mereka tak terbunuh. Kata kemenangan mungkin jauh dari pikiran mereka. Yang ada dalam pikiran mereka sederhana saja. Mereka bisa mempertahakankan aqidah mereka, mempertahankan agama mereka, itu sudah cukup.
Sampai pada akhirnya kita dipisahkan dari jama’ah ini, karena amanah yang sudah harus berpindah tangan. Setahun kepengurusan itu berlalu begitu saja. Entah apa efeknya kepengurusan satu tahun itu? Aku tak tahu. Mungkin kepengurusan itu tak banyak memberikan kontribusi untuk dakwah kampus kita tercinta ini. Maafkan kami, kakakku, adekku..
Teruntuk kalian teman juangku, yang mampu dan mau berjuang dalam kondisi yang tandus. Saya mencintai kalian saudara muslim ku. Atas ukhuwah yang berantakan ini, kita semua tau, bahwa ini akibat iman kita yang rombeng. Terlebih sering imankulah yang rombeng. afwan.
Kini aku merindukan kalian, pasukan yang tandus. Ingin kusampaikan rasa maafku atas imanku yang compang camping ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar