Dulu, kau begitu hangat
Dulu. kau begitu cerewet mengkritisi tingkahku
Dulu, kau intens menemaniku, menemani perjuanganku
pesan di handphone penuh dengan taujihmu,
penuh dengan kata2 luar biasa dr ketika jarimu
tak jarang pesan itu berisi taklimat,
tak jarang pula pesan itu berisi kritikan pedas
mengajakku berlari sekencang-kencangnya
mengajakku berdiri setegap-tegapnya, sekuat-kuatnya
sampai topan pun tak bisa merobohkan
Aku rindu saat-saat seperti itu
sangat amat rindu
aku merindukanmu, mbakku sayang
Aku menunggu reminder ayyamul bidh mu
Aku menunggu undangan seminar darimu
Aku menunggu undangan kencan bersamamu
Aku menunggu kritikan2mu akan jeleknya kerjaku
sekarang pun.. aku masih menunggu itu
Mbakku sayang,
jika yang ada di pundakmu terlalu berat,
apakah tanganku ini tak bisa meringankannya sedikit?
Aku akan sangat paham, jika sebab jauhnya kau dariku karena amanahmu yang begitu berat di luar sana
karena tugas kuliahmu yang menuntut diselesaikan dengan cepat
atau karena ingin memfokuskan pikiran pada tugas akhirmu
Aku paham mbak, sangat paham
Tapi yang kutakutkan
jikalau penyebab ini semua adalah tingkahku yang sudah kelewat batas
hingga menembus batas kesabaranmu
maafkan adekmu ini mbak
maafkan saya yang selalu merepotkan mbak
maafkan saya yang malah sering membantah
maafkan saya yang telah menyalah artikan cinta mbak
Aku menyayangimu mbak
dan sekarang aku menrindukanmu, sangat merindukanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar