Selasa, 28 Oktober 2014

Tentang Hati, Tentang Cinta

Dengan menyebut asma Allah, kali ini sy mencoba memberanikan diri membahas hal yang selama ini menjadi gundah dalam hati, memenuhi pikiran, dan sulit sekali diselesaikan meski sudah banyak teori dipaparkan. Ya.. karena pembahasan kali ini adalah tentang Hati, tentang Cinta.

Setelah sekian lama saya memendam untuk menyampaikan hal ini karena rasa takut yang luar biasa, rasanya hari ini aku ingin sekali mencurahkan semuanya. Saya ingin menyampaikan yang seharusnya disampaikan. Bukan hanya dipendam. Bukan hanya dipikirkan. Yaa karena kita berkewajiban untuknya, berkewajiban untuk menyampaikannya, walau pahit rasanya..

Cinta..

Kalau kata adek kelas saya ketika SMA dulu, Cinta adalah anugrah, ketika kita bisa memeliharanya, menempatkan pada tempatnya, pada waktunya. Namun, Cinta akan jadi musibah, ketika dia tak terpelihara, salah posisi, dan tak tepat waktu.
Saya yakin ketika kata-kata di atas saya jadikan status facebook akan banyak banget yang ngelike. Artinya, memang sudah sangat banyak orang yang memahami bagaimana cinta itu harus disikapi. Namun pada kenyataanya sedikit sekali yang bisa bertahan untuk menjaga cintanya sampai pada waktu yang tepat, dan memberikannya pada seseorang yang memang sudah seharusnya mendapatkannya.

Kalian tau apa sebabnya?

Pasti sebagian besar orang akan menjawab. “itu maklum, itu lumrah, hati manusia kan berubah – rubah, dan memang sangat sulit untuk menghindari hal itu karena itu sudah fitrohnya kita sebagai manusia, pasti punya rasa cinta”

Hmm.. rasanya saya sudah sangat bosan dengan jawaban itu, gak ada jawaban lain apa??
Jika kita memandang cinta adalah fitroh kita sebagai manusia, sudah ketentuan Allah, oke saya sependapat, tapi pertanyaan saya, bukankah setelah memberikan fitroh itu Allah juga memberikan panduan kepada siapa cinta itu harus kita berikan?

“kan cinta tidak bisa memilih orang? Kan cinta datang dengan sendirinya?”

KATA SIAPA???

Cinta itu (kata ust. Salim A Fillah) sebuah kata kerja yang bisa diciptakan, bukan sebuah kata sifat yang sudah terciptakan sehingga tak ada lagi istilah jatuh cinta, namun bangun cinta.

Cinta itu dibangun, diadakan, bukan tidak sengaja ada. Ketika kau berani menyatakan kau mencintai seseorang, itu berarti kau sudah memberikan tempat orang itu di hatimu. Itu berarti kau sudah menempatkan namanya dalam pikiranmu. Bukankah itu kata kerja? Bukankah itu sebuah kegiatan yang bisa saja dengan mudah ditinggalkan? Itu pilihan sebenarnya.

Ketika kita tidak mau memberikan ruang sedikitpun di hati kita untuk seseorang yang belum jelas statusnya, yang belum dibolehkan sama Allah untuk dipikirkan, maka gak akan ada yang namanya kejebak cinta.

Ali Bin Abi Tholib adalah manusia. Beliau mencintai Fatimah binti Rosulullah. Lalu apakah kemudian beliau mengutarakan itu ke Fatimah dengan sejuta puisi romantis dalam surat berwarna merah mudah atau dengan alunan lagu dan petikan gitar? TIDAK

Ali bin Abi Thalib memendam perasaannya karena beliau tau bagaimana cara menempatkan cinta. Beliau mengutarakan cintanya ketika beliau sudah menjadi suami sah dari putri kesayangan rasulullah tersebut. Seandainya beliau tidak menikah dengan Fatimah kala itu, maka membuang jauh jauh cinta itu adalah hal yang sangat mudah baginya. Karena baginya cinta adalah kata kerja, bukan kata sifat.

Seperti itulah harusnya kita menata hati. 

Mau meneladani siapa lagi kita kalau bukan Rosulullah dan sahabatnya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar