Dengan menyebut asma Allah, kali
ini sy mencoba memberanikan diri membahas hal yang selama ini menjadi gundah
dalam hati, memenuhi pikiran, dan sulit sekali diselesaikan meski sudah banyak
teori dipaparkan. Ya.. karena pembahasan kali ini adalah tentang Hati, tentang
Cinta.
Setelah sekian lama saya memendam
untuk menyampaikan hal ini karena rasa takut yang luar biasa, rasanya hari ini
aku ingin sekali mencurahkan semuanya. Saya ingin menyampaikan yang seharusnya
disampaikan. Bukan hanya dipendam. Bukan hanya dipikirkan. Yaa karena kita
berkewajiban untuknya, berkewajiban untuk menyampaikannya, walau pahit rasanya..
Cinta..
Kalau kata adek kelas saya ketika
SMA dulu, Cinta adalah anugrah, ketika kita bisa memeliharanya, menempatkan
pada tempatnya, pada waktunya. Namun, Cinta akan jadi musibah, ketika dia tak
terpelihara, salah posisi, dan tak tepat waktu.
Saya yakin ketika kata-kata di
atas saya jadikan status facebook akan banyak banget yang ngelike. Artinya,
memang sudah sangat banyak orang yang memahami bagaimana cinta itu harus
disikapi. Namun pada kenyataanya sedikit sekali yang bisa bertahan untuk
menjaga cintanya sampai pada waktu yang tepat, dan memberikannya pada seseorang
yang memang sudah seharusnya mendapatkannya.
Kalian tau apa sebabnya?
Pasti sebagian besar orang akan
menjawab. “itu maklum, itu lumrah, hati manusia kan berubah – rubah, dan memang
sangat sulit untuk menghindari hal itu karena itu sudah fitrohnya kita sebagai
manusia, pasti punya rasa cinta”
Hmm.. rasanya saya sudah sangat
bosan dengan jawaban itu, gak ada jawaban lain apa??
Jika kita memandang cinta adalah
fitroh kita sebagai manusia, sudah ketentuan Allah, oke saya sependapat, tapi
pertanyaan saya, bukankah setelah memberikan fitroh itu Allah juga memberikan panduan
kepada siapa cinta itu harus kita berikan?
“kan cinta tidak bisa memilih
orang? Kan cinta datang dengan sendirinya?”
KATA SIAPA???
Cinta itu (kata ust. Salim A
Fillah) sebuah kata kerja yang bisa diciptakan, bukan sebuah kata sifat yang sudah
terciptakan sehingga tak ada lagi istilah jatuh cinta, namun bangun cinta.
Cinta itu dibangun, diadakan,
bukan tidak sengaja ada. Ketika kau berani menyatakan kau mencintai seseorang,
itu berarti kau sudah memberikan tempat orang itu di hatimu. Itu berarti kau
sudah menempatkan namanya dalam pikiranmu. Bukankah itu kata kerja? Bukankah itu
sebuah kegiatan yang bisa saja dengan mudah ditinggalkan? Itu pilihan
sebenarnya.
Ketika kita tidak mau memberikan
ruang sedikitpun di hati kita untuk seseorang yang belum jelas statusnya, yang
belum dibolehkan sama Allah untuk dipikirkan, maka gak akan ada yang namanya
kejebak cinta.
Ali Bin Abi Tholib adalah
manusia. Beliau mencintai Fatimah binti Rosulullah. Lalu apakah kemudian beliau
mengutarakan itu ke Fatimah dengan sejuta puisi romantis dalam surat berwarna
merah mudah atau dengan alunan lagu dan petikan gitar? TIDAK
Ali bin Abi Thalib memendam
perasaannya karena beliau tau bagaimana cara menempatkan cinta. Beliau
mengutarakan cintanya ketika beliau sudah menjadi suami sah dari putri
kesayangan rasulullah tersebut. Seandainya beliau tidak menikah dengan Fatimah
kala itu, maka membuang jauh jauh cinta itu adalah hal yang sangat mudah
baginya. Karena baginya cinta adalah kata kerja, bukan kata sifat.
Seperti itulah harusnya kita
menata hati.
Mau meneladani siapa lagi kita kalau bukan Rosulullah dan sahabatnya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar