Rabu, 18 Februari 2015

Ketika Adekku Bertanya ~ Eps 2

A   :   Kak, aku ikut LDK, tapi kenapa orangnya kolot banget sih?
K   :   Kenapa bisa gitu?
A   :   Ya masak, rapat atau yang mereka sebut dengan syuro aja harus pakek hijab. Plis deh kak. Kenapa harus seperti itu?
K   :   Untuk menjaga pandangan dek, agar ketika mereka berbicara, mata-mata mereka tidak saling beradu. Karena itu bisa jadi jalan setan untuk masuk meracuni hati dan pikiran mereka. Intinya untuk menjaga hati agar tidak sampai terjadi zina hati atau bahkan terjadi cinta terlarang.
A   :   Apa itu juga alasan kenapa harus ada batas waktu untuk ikhwan dan akhwat berkumpul?
K   :   Iya, benar.
A   :   Tapi kan di luar syuro mereka bebas ngomong dengan siapa aja, kapan aja, dan dengan gaya ngobrol sesuka mereka. Seperti ketika mereka berinteraksi dengan teman sekelas mereka, atau dengan teman mereka di ormawa lain, di himpunan atau bem misalnya?
K   :   Itu tanggung jawab masing-masing individu. Intinya menjaga hati itu wajib dilakukan dimanapun dan kapanpun, terutama jika berinteraksi sama lawan jenis. Nah di jamaah ini, difasilitasi dengan adanya hijab ketika syuro, dengan tidak terlalu banyak guyon alias tidak terlalu cair, dengan melarang syuro yang hanya dihadiri 1 ikhwan dan 1 akhwat, termasuk memberi batas waktu bersama antara ikhwan dan akhwat. Ini semua fasilitas dari jamaah kita, dengan harapan berkah Allah turun ketika kita meminimalisir hal-hal yang bisa mendekatkan kepada maksiat.
          Ketika di luar, mereka diberi kebebasan memilih cara bagaimana menjaga hati mereka masing-masing. Ada yang cair dengan siapa saja namun dibarengi istighfar yang banyak, atau ada yang memilih menunduk ketika berbicara dengan lawan jenis. Mereka yang lebih tau kapasitas kekuatan hati mereka masing-masing.
A   :   Trus kak, kenapa dalam komunikasinya mereka sering memakai kata-kata asing seperti afwan, syukran, antum, anti, ane, dsb. Apa memang harus seperti itu adatnya?
K   :   Tidak harus seperti itu. Ini hanyalah sebuah dialek dan adab berbicara dek. Klo bisa dianalogikan seperti ini. ketika kita bicara dengan orang jawa yang kita hormati, maka akan lebih baik jika kita menggunakan bahasa jawa yang halus dibanding bahasa Indonesia, meskipun orang yang kita ajak bicara tersebut paham bahasa Indonesia. Tapi jika ingin menggunakan bahasa Indonesia pun tak masalah.
A   :   Oke, syukran kakak

K   :   Afwan, haha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar